Entri yang Diunggulkan

Apakah Aman Melakukan 5 Hal Ini Saat Hamil?

Apakah Aman Melakukan 5 Hal Ini Saat Hamil? Sudah sewajarnya saat kamu sedang hamil akan merasa takut atau  parno   jika ingin melakukan...

Kamis, 12 Oktober 2017

Efek Buruk Yang Mungkin Terjadi Jika Ibu Hamil Mengidap Demam Dengue

Efek Buruk Yang Mungkin Terjadi Jika Ibu Hamil Mengidap Demam Dengue

Ketika ibu hamil mengidap demam dengue, efek buruk tak hanya dirasakan olehnya sendiri. Janin dalam kandungan mungkin juga bisa menerima dampak negatif dari kondisi tersebut.
Demam dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue . Virus ini disebarkan melalui gigitan  nyamuk Aedes aegypti. Demam dengue akan menjadi sangat berbahaya jika terjadi pada saat kehamilan. Virus dengue yang berada di dalam tubuh ibu hamil mungkin dapat diteruskan kepada  bayi yang  sedang di kandung.

Jika kamu mengalami demam dengue biasanya gejala  dapat terlihat 4 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Gejala yang mungkin kamu alami yaitu  demam dengan suhu tubuh 38 derajat Celcius atau lebih, sakit kepala , mata terasa sakit, tubuh terasa nyeri (otot, sendi dan tulang), muncul ruam, perdarahan ringan  dari hidung dan gusi, lemas, serta mual dan muntah.
Menurut sebuah penelitian, kebanyakan ibu hamil yang mengidap dengue akan mengalami penurunan kadar trombosit. Nah, untuk memastikan hal tersebut, kamu bisa melakukan tes darah.
Risiko kamu mengalami komplikasi kehamilan seperti preeklampsia juga  akan meningkat jika mengalami demam dengue. Saat melahirkan, risiko kamu mengalami perdarahan juga tinggi, sehingga mungkin perlu dilakukan  transfusi darah
Selain hal  tersebut di atas, demam dengue bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius yakni demam berdarah dengue (DBD). Ibu hamil yang terjangkit demam dengue lebih sering untuk  berkembang menjadi DBD. Hal ini mungkin disebabkan karena menurunnya  sistem kekebalan tubuh yang terjadi selama kehamilan. DBD juga dapat berkembang apabila demam dengue tidak ditangani dengan baik. DBD yang tidak ditangani dengan benar dapat berakibat fatal. Meski begitu, kamu tidak perlu khawatir karena banyak, kok, ibu hamil yang mengidap demam dengue tapi tidak terjangkit DBD, asalkan kamu mengatasi demam dengue dengan baik.

Efeknya pada Bayi

Jika kamu mengidap demam dengue saat hamil, beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada bayimu antara lain:
Jika kamu mengidap demam dengue mendekati waktu persalinan, bayimu yang baru lahir mungkin bisa mengidap kondisi ini juga pada saat dua minggu pertama kehidupannya. Sementara, bayi yang terinfeksi dengan dengue berisiko tinggi mengalami kondisi penyakit yang lebih serius.

Cara Mengatasi Demam Dengue

Apabila kamu mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, disarankan untuk segera melakukan konsultasi  dengan dokter. Oia, terkadang gejala demam dengue hampir mirip ketika kamu mengalami flu atau infeksi virus lainnya. Jadi, harap waspada.
Hingga saat ini, belum ada obat-obatan khusus yang dapat membunuh virus dengue. Namun, kemungkinan dokter akan menyarankan untuk meredakan kondisi ini dengan melakukan cara-cara sederhana seperti berikut:
  • Banyak minum air untuk menghindari dehidrasi.
  • Minum obat penurun panas dan pereda nyeri seperti acetaminophen. Hindari mengonsumsi obat ibuprofen atau aspirin. Ibuprofen dapat mempengaruhi janin di saat kehamilan berusia trimester ketiga, sedangkan aspirin bisa memperburuk kondisi perdarahan.
  • Perbanyak istirahat.
Jika kamu merasa kondisimu memburuk seperti mengalami sakit perut parah atau muntah sehari setelah demam mereda, disarankan untuk segera ke rumah sakit untuk memastikan ada atau tidaknya komplikasi. Jika ternyata demam dengue telah berkembang menjadi DBD, kamu mungkin akan dirawat inap.
Hingga saat ini, belum ada vaksin yang diperuntukkan untuk menjaga tubuh dari virus dengue.
Agar terhindar dari serangan tersebut, yang perlu kamu lakukan adalah mencegah dirimu digigit oleh nyamuk. Caranya bisa mengoleskan obat anti-nyamuk, (meski berada di dalam ruangan), gunakan pakaian yang menutupi kulitmu saat berada di luar ruangan, lebih disarankan untuk menyalakan pendingin udara saat di dalam ruangan, pastikan tidak ada lubang yang bisa memudahkan nyamuk masuk ke rumah, dan gunakan kelambu saat tidur juga bisa membantu.

Trik Mudah Atasi Pegal-Pegal Saat Kamu Hamil

Trik Mudah Atasi Pegal-Pegal Saat Kamu Hamil

Kehamilan bisa membuat tubuhmu mengalami pegal-pegal. Area yang dapat mengalaminya bisa terjadi pada satu bagian saja, seperti punggung, atau bisa bersifat menyeluruh.
Pegal-pegal yang kamu alami merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil. Ini terjadi karena tubuhmu sedang mempersiapkan diri untuk persalinan, bisa juga karena perubahan hormon, pertambahan berat badan, perkembangan bayi, stres, atau perubahan postur tubuh. Pegal-pegal juga bisa menimpa ketika kamu mengalami flu saat hamillho!

Rasa pegal-pegal saat hamil bisa dirasakan di kaki dan punggungmu. Itu terjadi karena keduanya harus menopang tubuhmu yang sedang berbadan dua. Kamu juga harus hati-hati saat mengangkat barang dan berolahraga, karena hormon yang diproduksi tubuh saat hamil bisa membuat ligamenmu menjadi kendur untuk persiapan proses melahirkan. Nah, hal ini bisa membuat ligamen mudah terluka, dan paling sering menimpa ligamen di area punggung.
Area punggung bagian bawah, bokong, panggul juga mungkin dapat mengalami pegal-pegal. Ini terjadi karena perubahan hormon dan tubuhmu sedang menyesuaikan diri terhadap pembesaran perutmu.

Begini Cara Mengatasinya

Jika kamu hanya merasakan pegal-pegal tanpa disertai gejala lain, kamu bisa mengatasinya dengan mandi air hangat. Selain meredakan pegal-pegal, mandi air hangat juga bisa memperlancar peredaran darah dan memberikan kehangatan yang bisa membuatmu merasa rileks.
Kamu mungkin beranggapan, apabila sedang pegal maka lebih baik untuk tidak menggerakkan tubuh. Tapi itu tidak selamanya benar. Tubuhmu yang pegal ternyata bisa, lho, diatasi dengan berolahraga seperti peregangan tubuh, berenang, dan yoga. Namun, jangan berlebihan saat melakukan aktivitas fisik ini, yah. Jika sebelum hamil kamu jarang berolahraga, maka disarankan untuk memulai olahraga dengan durasi 10 hingga 15 menit, dan kemudian tingkatkan perlahan-lahan menjadi 30 menit tiap harinya.
Trik mudah lainnya yaitu dengan memijat tubuhmu. Pijatan ini mungkin bisa meredakan pegal-pegal yang kamu rasakan. Kamu bisa mendatangi tempat pijat khusus ibu hamil atau untuk praktisnya kamu dapat meminta suamimu untuk memijat tubuhmu. Sebagai contoh, dia bisa memijat bagian punggungmu. Cara melakukan pijatan pada punggung ibu hamil bisa dilihat di artikel ini “Tips Buat Suami: Begini Cara Memijat Istrimu yang sedang Hamil”.
Penggunaan korset hamil juga bisa, lho, mengatasi masalah ini. Biasanya, korset kehamilan berguna jika kamu sering melakukan aktivitas dengan berdiri.
Mengonsumsi obat-obatan penghilang rasa sakit seperti Acetaminophen (Tylenol) juga dapat kamu lakukan. Obat ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Namun, sebelumnya kamu harus tetap mengonsultasikannya terlebih dahulu ke dokter.
Pastikan kamu tidur dengan cukup agar otot-ototmu menjadi rileks dan rasa pegal pun menghilang.
Jika kamu mengalami pegal-pegal yang disertai gejala lain seperti ruam atau demam, kamu bisa segera menanyakannya ke dokter.

Kamu Harus Tahu Penyebab Janin Meninggal Dalam Kandungan Atau Stillbirth

Ibu hamil pasti berharap memiliki kehamilan yang sehat hingga bayi lahir ke dunia dengan selamat. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat membuat janin meninggal dalam kandungan (stillbirth)Dengan mengetahui penyebab-penyebabnya dan cara pencegahannya, kamu bisa mewaspadai kondisi tersebut saat hamil.
Stillbirth adalah kondisi di mana janin meninggal dalam kandungan setelah kehamilan berusia di atas 28 minggu. Kebanyakan kasus janin yang meninggal dalam kandungan terjadi di masa kehamilan atau bisa juga saat proses persalinan berlangsung, meski persentasenya kecil.

Sebenarnya, tidak ada yang tahu penyebab pasti janin meninggal dalam kandungan. Tapi dari beberapa kasus yang terjadi, kondisi ini mungkin disebabkan oleh:
  • Masalah plasenta. Sebagian kasus janin meninggal dalam kandungan kerap dikaitkan dengan plasenta yang tidak bekerja dengan benar. Plasenta merupakan organ yang menyalurkan asupan-asupan penting yang dibutuhkan janin selagi di dalam kandungan seperti aliran darah, oksigen, dan nutrisi. Jika organ ini mengalami gangguan, perkembangan janin dapat terhambat dan mungkin bisa menjadi penyebab ia meninggal di dalam kandungan.
  • Penyakit yang diderita oleh ibu hamil. Kamu mungkin bisa mengalami hal ini jika selagi hamil menderita masalah kesehatan tertentu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, terutama yang tidak dikontrol dengan baik. Sebagai contoh, jika Anda menderita tekanan darah tinggi dan tidak terkontrol, maka kondisi itu bisa memicu “preeklampsia”. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko Anda melahirkan bayi tanpa nyawa.
  • Infeksi. Jenis infeksi yang paling sering menyebabkan janin meninggal dalam kandungan adalah infeksi bakteri. Jika Anda terinfeksi bakteri, maka kuman tersebut bisa berjalan dari vagina ke rahim lalu menginfeksi janin. Infeksi bakteri yang terjadi antara 24 dan 27 minggu kehamilan dapat menyebabkan janin meninggal dalam kandungan.
  • Tali pusar tidak normal. Contoh tali pusar yang tidak normal yaitu tali pusar yang melilit di leher bayi atau terpuntir. Kondisi ini bisa memotong pasokan oksigen ke bayi.
  • Cacat Lahir. Gangguan kromosom bisa menyebabkan birth defect atau dikenal dengan istilah cacat lahir (struktur tubuh janin yang tidak normal atau mengalami cacat berat). Selain itu, cacat lahir juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, genetik, atau hal lain yang tidak diketahui dengan jelas.
Selain kondisi di atas, terdapat faktor yang bisa meningkatkan risiko kamu mengalami stillbirth, salah satunya adalah jika kamu hamil di atas usia 35 tahun. Kamu akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan jika hamil di usia itu. Mengingat tidak semua kasus stillbirth dapat diketahui penyebabnya, maka hal sama berlaku pula untuk pencegahannya. Berikut beberapa pencegahan yang bisa kamu lakukan:
  • Menjalani gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, terbebas dari asap rokok, minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.
  • Pastikan kamu memiliki berat badan yang sehat sebelum merencanakan kehamilan.
  • Cobalah untuk memerhatikan pergerakan janin dimulai pada minggu ke-26 hingga ke-28 masa kehamilan. Catat seberapa sering janin bergerak tiap harinya. Mengetahui ritme pergerakan janin bisa memudahkanmu untuk mendeteksi atau sedikit waspada jika tiba-tiba Si Kecil tidak bergerak begitu aktif seperti biasanya.
  • Rutinlah memeriksakan kandungan ke dokter. Selagi memeriksakan kandungan, beri tahu dokter segala keluhan yang kamu alami.
Jika kamu sudah melakukan pencegahan dan kamu tetap mengalami kondisi ini, maka janinmu yang sudah tak bernyawa harus tetap dilahirkan. Janini bisa dilahirkan hingga menunggu waktunya tiba atau mempercepatnya dengan melakukan induksi. Jalan operasi caesar mungkin bisa ditempuh jika kesehatanmu terancam. Meski begitu, proses melahirkan lewat jalur ini jarang dilakukan.

Bayi Terlilit Tali Pusar. Apakah Berbahaya?

Bayi Terlilit Tali Pusar. Apakah Berbahaya ..?

Salah satu jenis komplikasi yang umum terjadi saat persalinan yaitu bayi terlilit tali pusar atau nuchal cord. Kondisi ini sepertinya sangat jarang menimbulkan masalah kesehatan pada bayimu. Meski begitu, lilitan tali pusar pada leher juga bisa mengancam jiwanya, walau jarang terjadi.
Tali pusar membentang dari lubang di perut janin hingga ke plasenta. Selama di dalam kandungan, tali pusar merupakan penghubung antara janin dengan ibu seperti membawa pasokan oksigen dan nutrisi dari plasenta ke aliran darah bayi. Panjang tali pusar rata-rata sekitar 50 cm. Karena terlalu aktif bergerak, tali pusar tersebut dapat melilit  360 derajat pada leher janin.

Berikut penjelasan mengenai nuchal cord yang tidak berbahaya dan yang mungkin dapat membawa efek buruk pada janin:
Lilitan yang tidak membahayakan. Pada kebanyakan kasus, tali pusar yang melilit leher janin tidaklah berbahaya. Daya lilitannya juga longgar sehingga mudah untuk dilepas saat proses persalinan. Tim medis akan dengan mudahnya melepas lilitan tersebut melewati kepalanya.
Saat proses tersebut terjadi, kamu mungkin tidak sadar bahwa tali pusar telah melilit leher bayimu.
Lilitan yang mungkin bisa berdampak buruk pada kesehatannya. Ada kondisi yang bisa berdampak buruk pada kesehatan bayimu yaitu jika lilitan pada lehernya terlalu kencang. Hal ini bisa membawa efek lebih buruk lagi jika terdapat lebih dari satu lilitan yang melingkari lehernya dan janin dirasa kurang aktif bergerak. Kondisi tersebut bisa memicu janin meninggal dalam kandungan.
Jika lilitannya terlalu kencang, tim medis mungkin akan menjepit lalu memotong tali pusar sebelum bahunya keluar dari vaginamu. Meski begitu, tindakan seperti ini jarang terjadi.
Kondisi lain yang bisa memengaruhi kesehatannya yaitu jika lilitan tersebut membuat denyut jantung janin melemah seketika. Hal ini terjadi karena tali pusar dapat meregang dan terkompresi saat proses melahirkan sehingga menurunkan aliran darahnya atau bahkan menghentikan aliran darah yang berjalan melalui tali pusarnya.
Apabila kondisi tersebut menimpa bayimu, tim medis akan terus memantau denyut jantungnya. Jika selama itu kondisinya tidak menunjukkan hal buruk, persalinan dapat terus berjalan tanpa adanya hambatan.
Kamu tidak perlu khawatir karena kebanyakan bayi dapat melalui tahapan ini dengan lancar dan dapat terlahir dengan jalan normal. Meski begitu, jika denyut jantungnya memburuk atau ada tanda-tanda janin mengalami marabahaya, seperti menurunnya pH (kadar keasaman) darah atau dia telah menghirup tinja pertamanya, jalur operasi caesar mungkin dapat ditempuh. Menghirup tinja pertamanya bisa membuatnya sulit bernapas karena saluran pernapasannya tersumbat dan teriritasi oleh kotoran tersebut.
Oia, bayi yang terlilit tali pusar juga mungkin bisa mengalami anemia, membuatnya sulit makan, atau terjadi pengikisan kulit di sekitar leher karena daya cengkeraman tali pusar yang kuat.
Intinya, kamu tidak perlu berpikir atau khawatir berlebihan ketika Si Kecil terlilit oleh tali pusarnya sendiri. Komplikasi serius akibat kondisi ini sangat jarang terjadi, kok!

Sudah Lewat Tanggal Prediksi, Tapi Bayi Belum Juga Lahir

Sudah Lewat Tanggal Prediksi, Tapi Bayi Belum Juga Lahir

Biasanya, bayi diperkirakan lahir saat kehamilan berusia sekitar 40 minggu atau sekitar 280 hari dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Namun, ada beberapa wanita yang tidak kunjung melahirkan setelah tanggal prediksi. Dimohon untuk tidak khawatir berlebihan jika kamu mengalaminya.
Tanggal kelahiran yang ditentukan oleh dokter tidaklah mutlak. Jadi, jika bayimu belum lahir juga setelah melewati tanggal prediksi (sekitar seminggu atau dua minggu setelahnya), itu bukan berarti Si Kecil telat dilahirkan. Bisa jadi saat memprediksi tanggal terjadi kesalahan saat menentukan hari pertama haid terakhirmu.

Sebenarnya tidak ada yang tahu pasti mengapa kamu bisa menjalani kehamilan lebih lama. Hal ini juga tidak disebabkan oleh pola hidupmu yang dijalani selama berbadan dua. Meski begitu, kamu lebih mungkin mengalami keterlambatan persalinan apabila:
  • HPTP tidak diketahui dengan pasti.
  • Kamu belum pernah hamil.
  • Janinmu berjenis kelamin laki-laki.
  • Kamu obesitas.
  • Faktor keturunan.
  • Keadaan ini sudah pernah kamu alami sebelumnya.
  • Meski jarang terjadi, kondisi ini mungkin terjadi karena ada masalah pada plasenta atau janinmu.
Jika kamu hanya mengalami beberapa hari keterlambatan, kebanyakan dokter tidak akan langsung menawarkan prosedur induksi untuk mempercepat persalinan. Apabila sudah lewat dari seminggu, kondisimu akan terus dipantau oleh dokter untuk melihat apakah ada tanda-tanda komplikasi.
Kebanyakan wanita akan melahirkan dengan spontan saat usia kehamilan menginjak 42 minggu. Jika persalinan tidak kunjung terjadi setelah waktu tersebut, ada beberapa risiko yang dapat menimpa janinmu.
Beberapa kemungkinan yang dapat menimpa bayimu jika dilahirkan di atas 42 minggu antara lain:
  • Janin di dalam kandungan mungkin akan kekurangan oksigen karena kondisi plasenta mulai memburuk setelah usia kehamilan di atas 38 minggu.
  • Ukuran janin terlalu besar untuk melewati jalan lahir. Prosedur operasi caesar atau melahirkan normal dengan bantuan forceps mungkin dibutuhkan.
  • Pertumbuhan melambat atau bahkan berhenti karena sudah tidak ada ruang lagi di rahim.
  • Air ketuban menurun, padahal cairan inilah yang melindungi janin di dalam rahim. Menipisnya air ketuban juga dapat menyebabkan tali pusar janin terjepit karena pergerakan janin atau saat rahimmu berkontraksi.
  • Janinmu mengeluarkan tinja pertamanya (meconium) di air ketuban dan kemudian waktu persalinan menghirupnya. Hal ini bisa mengiritasi jaringan paru-parunya, saluran pernapasannya terhambat dan membuat paru-parunya tidak berkembang dengan baik.
  • Terjadi gawat janin seperti detak jantungnya melambat dan tanda-tanda janin mengalami marabahaya.
  • Janin meninggal di dalam kandungan atau meninggal sesaat setelah dilahirkan.
Untuk mencegah persalinan di atas usia 42 minggu, beberapa dokter akan melakukan induksi saat kehamilan berusia 41 minggu dan kondisi serviks telah siap, atau bahkan secepat mungkin jika terjadi komplikasi. Atau, ada juga dokter yang mungkin memilih untuk menunggu persalinan datang secara alami sambil memonitor keadaanmu dan janin.
Cobalah untuk tetap tenang ketika menghadapi situasi seperti ini, apalagi jika dokter mengatakan kondisi janinmu baik-baik saja. Jangan sampai kondisi ini menambah beban pikiranmu. Saran terbaik yang bisa kamu lakukan adalah menyibukkan diri agar kamu tidak terus-menerus memikirkan mengenai tanda-tanda persalinan.
Jaga pula kondisi fisikmu, karena pada masa ini kamu mungkin merasa lelah menjalani kehamilan seperti ini. Tubuhmu mungkin mengalami ketidaknyamanan secara menyeluruh seperti punggung terasa pegal-pegal, pergelangan kaki membengkak, sakit di ulu hati, wasir, atau susah tidur.
Yang terpenting adalah jangan sampai kamu lepas kontak dengan dokter kandunganmu. Periksakan kehamilan secara rutin hingga datang hari kelahiran Si Buah Hati tiba.

Kenali Penyebab Kematian Pada Ibu Terkait Kehamilan Dan Melahirkan

Kenali Penyebab Kematian Pada Ibu Terkait Kehamilan Dan Melahirkan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu didefinisikan sebagai kematian yang terjadi saat masa kehamilan atau dalam kurun waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan. Hal tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor, kecuali kecelakaan. Di Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) ini masih tergolong tinggi, lho!
Mungkin kamu pernah mendengar kalimat bahwa wanita sedang mempertaruhkan nyawanya ketika dia sedang hamil dan melahirkan. Hal itu memang benar adanya, karena jika kehamilannya tidak sehat atau proses persalinan tidak berjalan dengan lancar, bisa-bisa nyawa yang jadi taruhannya. Oleh karena itu, bagi kamu yang berencana atau sedang hamil, sangat penting untuk mengetahui penyebab kematian ibu agar kamu lebih bisa mengantisipasi faktor-faktor yang dapat merenggut nyawa ibu hamil.

Berikut beberapa penyebabnya:
Perdarahan post partum secara berlebihan (PPH). Ini adalah penyebab kematian pada ibu paling umum terkait melahirkan di negara maju. Kondisi ini terjadi ketika kamu mengalami perdarahan parah usai melahirkan (lebih dari 500 ml usai melahirkan secara normal atau lebih dari 1000 ml usai operasi caesar).
Perdarahan ini biasanya dapat terjadi dalam kurun waktu sehari atau bisa juga hitungan minggu pasca persalinan. Perdarahan postpartum ditandai dengan keluarnya darah dari vagina yang terjadi terus-menerus. Bila dibiarkan, tekanan darah akan menurun atau mengalami syok. Kondisi ini ditandai oleh pusing, keringat dingin, jantung berdetak cepat, tubuh lemah atau ingin pingsan.
PPH sendiri bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti:
  • Otot rahim tidak bisa berkontraksi dan menekan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah. Kondisi ini disebut atonia uteri.
  • Jalur-jalur persalinan mengalami cedera, contohnya luka sayatan pada perineum akibat menjalani episiotomi.
  • Jaringan plasenta atau janin tertahan di dalam rahim.
  • Darah sulit membeku.
  • Rahim pecah.
  • Plasenta menutup jalan lahir (plasenta previa)
Preeklamsia. Sebenarnya memiliki tekanan darah tinggi saat hamil merupakan hal yang umum terjadi, namun bisa juga berubah fatal. Tekanan darah tinggi yang tidak ditangani dengan baik saat hamil dapat berubah menjadi masalah serius, yakni preeklamsia. Preeklamsia adalah kondisi tekanan darah tinggi disertai rusaknya organ pada tubuh dan ditemukannya protein dalam urine. Biasanya kondisi ini terjadi setelah lima bulan kehamilan.
Kamu lebih berisiko mengalami preeklamsia jika baru pertama kali hamil, mengandung saat berusia di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun, kelebihan berat badan, ada keluarga yang mengalami tekanan darah tinggi saat hamil, mengandung bayi kembar atau memiliki riwayat penyakit kronis (tekanan darah tinggi, masalah ginjal, atau diabetes).
Mengidap penyakit tertentu. Penyakit yang sudah kamu derita sebelum hamil dan masih kamu bawa hingga berbadan dua juga bisa membahayakan nyawamu. Apalagi jika kondisi tersebut tidak mendapat penanganan yang baik. Beberapa jenis penyakit yang dimaksud antara lain penyakit ginjal, kanker, jantung, tuberkulosis, anemia, HIV/AIDS, atau penyakit lain yang kamu derita.
Infeksi (biasanya terjadi setelah melahirkan). Salah satu infeksi yang dimaksud yaitu sepsis Infeksi ini bisa memburuk dan memicu penurunan tekanan darah (syok septik). Syok ini bisa dengan cepatnya merusak beberapa organ seperti ginjal, hati, atau paru-paru, yang mana hal ini bisa menyebabkan kematian.
Untuk menghindari hal-hal buruk menimpa dirimu, kamu disarankan untuk rutin memeriksakan diri ke dokter sebelum dan selama kehamilan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi masalah kesehatan apa yang kamu derita sebelum hamil, agar bisa ditangani dengan baik dan tidak memburuk selama kehamilan. Atau jika kamu memiliki riwayat penyakit, katakan kepada dokter agar dia bisa merekomendasikan perawatan yang tepat untukmu.
Selain itu, jaga asupanmu, hindari hal-hal yang bisa membahayakan kehamilanmu, tetap pantau kesehatanmu, dan praktikkan pola hidup sehat. Nah, usai melahirkan bukan berarti kamu sudah terbebas dari dokter. Kamu harus tetap rutin memeriksakan kesehatan ke dokter, apalagi jika kamu mengalami hal-hal yang tidak wajar.

Rabu, 11 Oktober 2017

Apakah Aman Melakukan 5 Hal Ini Saat Hamil?

Apakah Aman Melakukan 5 Hal Ini Saat Hamil?

Sudah sewajarnya saat kamu sedang hamil akan merasa takut atau parno jika ingin melakukan apa pun. Alasannya sederhana saja, kamu mengkhawatirkan dampaknya kepada janin di rahimmu. Apalagi, perubahan fisik yang terjadi di masa-masa kehamilan nyatanya bisa membatasi ruang gerakmu. Namun, tidak semua hal dinilai berbahaya untuk dilakukan saat hamil, lho!
Setidaknya ada lima hal yang bisa membuat ibu hamil bertanya-tanya mengenai tingkat keamanan tidur tengkurap, menggunakan ponsel, melewati sensor pendeteksi logam, memakai komputer, bahkan hingga kerja di waktu malam.

Untuk mengetahui tingkat keamanan dari lima aktivitas tersebut, yuk, mari baca penjelasannya di bawah ini.
Tidur tengkurap. Tidur dengan posisi perut di bawah sebenarnya aman dilakukan hanya pada awal masa kehamilan karena di masa ini rahimmu masih berada di belakang tulang kemaluan sehingga benar-benar terlindungi dengan baik. Meski dianggap aman, posisi tidur tengkurap bisa membuat payudaramu menjadi nyeri akibat tertekan tubuh dan mungkin membuatmu tidak nyaman saat tidur.
Selanjutnya, kamu disarankan untuk menghindari posisi tidur tengkurap saat kondisi perut sudah membesar. Selain tidak nyaman, posisi ini bisa menyakiti janin di dalam kandungan. Sementara itu, tidur telentang juga tidak disarankan ketika kehamilanmu sudah berusia empat bulan karena posisi ini bisa menghambat peredaran darah dari tubuh bagian bawah ke jantung. Posisi terbaik saat perut sudah membesar adalah tidur dengan bertumpu pada sisi kiri tubuh.
Menggunakan ponsel. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada risiko serius yang disebabkan penggunaan ponsel kepada kesehatan bayi. Sebuah penelitian menyatakan bayi yang terpapar dengan ponsel sebelum dan sesudah dilahirkan cenderung memiliki gangguan tingkah laku. Akan tetapi, studi ini memiliki banyak kekurangan sehingga hasilnya dipertanyakan. Untuk saat ini, wanita hamil bisa merasa aman dalam menggunakan ponsel. Walau demikian, kamu disarankan untuk tetap berhati-hati dalam menggunakannya. Cara yang bisa kamu lakukan adalah memakai hands-free saat menelepon dan membatasi waktu penggunaan ponsel.
Berjalan melewati sensor pendeteksi logam. Ketika sedang hamil, kamu tidak perlu takut memasuki tempat-tempat umum yang di pintu masuknya berdiri kokoh mesin pendeteksi logam. Mesin ini memang dapat mengeluarkan gelombang elektromagnetik guna mendeteksi benda-benda logam, namun frekuensi yang dikeluarkan tetap rendah dan aman dilalui oleh semua orang, termasuk ibu hamil. Perlu diketahui bahwa sistem pendeteksi logam hanya akan menembus pakaian tapi tidak kulit manusia.
Berkutat dengan komputer atau laptop sepanjang hari. Memakai komputer saat hamil terbilang aman karena alat elektronik ini mengeluarkan radiasi non ionisasi yang kadarnya tidak membahayakan janin. Yang jadi permasalahan bukan terletak pada radiasi dari komputer, melainkan fakta bahwa ibu hamil yang duduk dalam waktu lama saat berkutat dengan alat ini.
Duduk terlalu lama, baik bagi ibu hamil maupun semua orang, bisa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Jadi, kamu disarankan untuk beranjak dari kursi dan berjalan-jalan tiap beberapa jam sekali.
Jika kamu memakai laptop, jangan menaruhnya di atas perutmu karena aliran panas yang keluar dari alat ini dikhawatirkan bisa meningkatkan suhu tubuh. Disarankan untuk menempatkan laptop di paha atau di meja.
Kerja jam malam. Hingga saat ini, masih belum ada kepastian apakah kerja pada jam malam khususnya akan berefek pada kesehatan. Akan tetapi, sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada risiko yang mungkin menimpa ibu hamil jika kerap bekerja di malam hari. Risiko tersebut berupa, ibu hamil berisiko memiliki bayi terlahir prematur atau bayi terlahir dengan berat badan rendah. Selain itu, ibu hamil bisa mengalami gangguan tidur, preeklamsia, hipertensi gestasional, atau bahkan keguguran. Risiko kekurangan vitamin D juga mungkin dialami ibu hamil yang jarang terkena sinar matahari akibat kebiasaan bekerja di malam hari. Walau demikian, risiko yang disebutkan sangatlah kecil, tetapi tidak ada salahnya bagi ibu hamil untuk berhati-hati. Bicarakan dengan atasan mengenai kesulitan bekerja di malam hari atau penggantian jadwal kerja, terutama jika ibu mengalami gejala stres psikologis.
Di sepanjang masa-masa kehamilan, kamu tetap bisa menjalani sejumlah aktivitas, meski tetap tidak boleh melupakan batasan-batasan yang ada. Agar ibu merasa aman dan tenang dalam beraktivitas, tidak ada salahnya untuk mengonsultasikan segala kekhawatiranmu kepada dokter kandungan.